Hari-hari terasa indah bagi mereka, ingin rasanya
waktu berhenti, atau berjalan secara slow motion, secara perlahan,
sehingga mereka berdua dapat memaknai keindahan itu.
Wanita Jepang itu selalu duduk di sushi bar,
berbincang akrab dengan kepala sushi chefnya Nyoman, di sebuah restoran
Jepang di daerah Manhattan New York.
Akira lain dari
kebanyakan wanita Jepang yang biasa dididik orangtuanya untuk selalu
menjaga jarak dengan orang lain, karena itu tentang sebuah kehormatan
diri, untuk tak terlalu akrab dan tertawa berlebihan, tangan harus
menutup ke mulut. Nyoman merasa kaget karena sepanjang 12 tahun bekerja
dibelakang sushi bar tak ada seorang wanita Jepangpun yang sengaja duduk
di sushi bar kecuali Akira.
Andai ada yang menggugurkan
kemustahilan itu atau secara kebetulan menjadikannya mungkin, itu karena
alasan sederhana tatkala Akira terheran - heran melihat sajian tuna
roll pesanannya berbentuk bunga Sakura. Akira lalu minta pindah duduk di
sushi bar. Setahu Akira hanya kakeknyalah yang bilang sushi bunga
Sakura ini khusus ditata spesial untuk cucu kesayangannya, keluar dari
pakem menata sushi yang diagonal. Dan perkenalanpun akhirnya terjadi.
Mereka bercakap dalam bahasa Inggris.
“Where did you learn sushi?”, tanya Akira
“He
was a head sushi chef at this restaurant, Mr Ito ”, jawab Nyoman Akira
berpenampilan seperti anak muda Harajuku. Mewakili generasi pemberontak
yang penuh semangat, mereka bebas berdandan apapun, atau model rambut
apapun, tak ada trend rambut Lady Di memperbaharui era Kucir Kuda, atau
potong rambut Poni lebih tua usianya dari rambut Demi Moore. Semuanya
membaur jadi satu. Tak ada kata kuno alias ketinggalan jaman dalam kamus
Harajuku.
“Akira San kerja di mana?”, tanya Nyoman
“Aku hanya berkunjung. Urusan bisnis. Summer besok aku balik ke Jepang.”
Akira
tinggal di apartemen seberang jalan. Ia selalu menyempatkan mampir
untuk makan malam sambil ngobrol dan memperhatikan Nyoman membuat sushi,
seolah ia kembali mengenang masa kecilnya ketika diakhir pekan seharian
ia bercengkerama dengan kakeknya pemilik kedai sushi di Ueno.
Kakeknya
mengiris ikan tuna tipis tipis, atau memotong seekor ikan Salmon, dan
ia selalu mendapatkan panggang kepala Salmon yang lezat untuk makan
siangnya. Tapi Akira selalu jijik ketika kakeknya sedang mengurusi liver
ikan Monk, ikan purba berwajah monster yang hanya diambil hati atau
ekornya, dan sisanya dibuang begitu saja. Liver ikan Monk dipenuhi
cacing cacing yang masih hidup, dan kakeknya mencabuti satu-satu dengan
pinset. Akira menjerit ketika kakeknya menakut nakuti dirinya sambil
menyodorkan cacing itu ke mukanya.
Bagi Nyoman, profesi Sushi Chef
hanya sekedar pekerjaan, sekedar mencari uang buat hidup di perantauan.
Tak pernah terpikirkan dalam benaknya Sushi sebagai sesuatu yang
serius, penuh detil dan indah. Orang Jepang paling bisa membuat sesuatu
yang simpel menjadi spesial, berharga mahal, memberi kesan seolah-olah
perpaduan cita rasa makanan dan budaya bercitra tinggi.
Membuat
gulungan sushi bagi Nyoman sekedar menaburkan segenggam nasi di atas
lembaran Nori lantas meratakannya dengan jari jemarinya, sesederhana
gerakan memijit, tapi barangkali bagi ahli kuliner seolah membayangkan
gerakan jari jemari rumit yang memainkan piano Beethoven Symphony No. 5.
Atau Akira melihatnya seolah gerakan tangan Nyoman memijit-mijit
lehernya, menepuk-nepuk serta mengelus bahunya dengan lembut. Semua itu
baru disadari Nyoman karena Akira telah mengajarkan keindahan itu.
*****
Bagi
orang Jepang seusia Akira -- generasi setelah Perang Dunia II, dia
menyandang beban moral tersendiri ketika Tuan Wang asal China secara
sengaja mengungkit-ungkit pembantaian tentara Jepang di China. Atau
cerita Nyoman tentang slogan “Saudara Tua” saat Jepang masuk Indonesia.
Mereka datang dengan propaganda yang bersahabat: Jepang pelindung Asia,
Jepang Pemimpin Asia dan Jepang cahaya Asia, tapi tentara Jenderal
Hitoshi Imamura itu kemudian tega merampas dan memperkosa saudara
mudanya, bahkan membunuh mereka dengan kejam.
“Maafkan aku Nyoman. Aku tak mempelajari sejarah, maafkan aku yang bodoh ini.”
“Ooh
maaf Akira San, aku sekedar bercerita, tapi kalau itu membuatmu merasa
nggak nyaman ...”, kata Nyoman. Ia menyadari Akira San merasa
terintimidasi.
Raut mukanya merana seolah menunjukkan permintaan maaf atas kekejaman tentara Jepang kakek moyangnya dahulu.
Bagi
Nyoman Akira tak pernah sekejam tentara Jepang, atau berusaha
mempropagandakan dirinya sebagai Saudara Tua seperti tahun 1942, tapi
sungguh perhatian dan kasih sayang Akira dirasakan benar benar sebagai
saudara tuanya. Nyoman sangat menghormati Akira, maka dibelakang namanya
ia selalu menambahkan San. Akira San, ungkapan hormat untuk seseorang
yang dituakan. Akira San sungguh merupakan jelmaan Dewi Cinta sekaligus
kakak perempuan yang tak pernah dimilikinya.
“Watashiwa Akira San o aishite imas”, Nyoman gugup mengutarakan cintanya pada Akira.
Akira
tersenyum, “ Where do yo learn Japanese, Nyoman?” Dewi Cinta itu
sungguh tenang seolah badai Tsunami takkan pernah membuatnya takut,
Nyoman hanyalah badai asmara seorang lelaki lugu yang gelombangnya
takkan menelannya, memporakporandakan, atau membuatnya binasa.
Pertemuan
singkat itu telah menaburkan benih-benih cinta diantara dua anak
manusia, berbeda bangsa, budaya, bahkan dimasa lampau pernah punya
sejarah kelam penjajahan. Seolah cerita cinta selalu menghapus
beribu-ribu dendam, amarah, melebur sekat-sekat perbedaan, dan selalu
menemukan jalan untuk bersatu.
Akira sungguh sangat suka melihat
cara Nyoman menyayat ikan Ekor Kuning. Sayatan pisau baja birunya itu
tipis, tegas, dan ngilu melihatnya. Apalagi ketika pisau itu beraksi
memotong daun bawang sungguh irisan itu tipis – tipis dengan gerakan
pisau yang maju mundur sangat cepat, secepat kilat di musim hujan, mata
Akira tak mampu mengikuti gerakannya, dan kecepatan itu membuatnya
terperangah. Dengan cara berbeda pisau itu bisa mencacah timun dengan
garang, menghasilkan setumpuk timun irisan jullien, sungguh irisan itu
tipis dan sangat rapi. Nyoman memainkan pisau baja birunya sesempurna
Samurai memainkan pedangnya.
******
Mereka berdua baru
mendarat di Narita, transit sebelum melanjutkan perjalanan ke Bali.
Malam telah larut. Dengan taxi limosin mereka pergi ke Tokyo. Dalam
hingar bingar lampu iklan Shinjuku, diantara karaoke bar yang berserakan
dan mesin-mesin pachinko yang diawasi geng Yakuza kedua pasang jiwa
yang dimabuk asmara itu menerobos di sela-sela pejalan kaki,
menyeberangi zebra cross yang saling berhimpitan akibat sempitnya
persimpangan jalan, beberapa dari mereka adalah pegawai kantor masih
dengan pakaian jas lengkap sambil menenteng tas kantor yang sempoyongan
sehabis menenggak sake. Dua sejoli itu menelusuri lorong gang dan
menjumpai sebuah kedai ikan Fugu. Ya .. waktu makan malam telah tiba.
Menu ikan Fugu adalah sebuah tantangan yang mendebarkan bagi Nyoman.
Akira
kalem dan suka menentang bahaya. Ikan Fugu alias ikan Balon adalah ikan
beracun yang dalam darah dan organ pencernaannya sanggup membunuh 30
orang sekaligus. Kekuatan racun itu 1200 kali lebih mematikan
dibandingkan cianida. Sebut saja mulai dari aktor Kabuki ternama yang
mati hingga gelandangan yang mengais sampah di sudut taman Ueno. Menu
ini sampai kapanpun dilarang masuk dapur Kerajaan..
“Lets try Fugu
5 Ways “, kata Akira. Lima hidangan kenikmatan sekaligus mematikan.
Hati Nyoman berdebar-debar ketika di meja telah tersedia irisan tipis
ikan Fugu mentah tertata rapi melingkar dalam piring keramik.
“Try it Nyoman .. “, Akira seolah menantang nyalinya.
Nyoman
ragu-ragu, hatinya berdebar-debar. Untuk apa aku memakan ikan itu,
lantas mati, dan tak bisa bertemu Akira lagi? Apakah Akira sengaja ingin
meracuninya? Atau ingin mengejeknya karena ia seorang penakut? Andai ia
disuruh memilih, mending ia akan memesan sup ramen atau belut panggang
saja.
Akira kemudian mengambil sehelai dengan sumpitnya dan memasukkan ikan Fugu itu ke dalam mulutnya.
"Is it good?” tanya Nyoman.
"Ouuuuch ... deadly good Nyoman,” desah Akira sambil memejamkan matanya.
Akira
kemudian mengambil lagi dan disodorkan ke mulut Nyoman, ia mengunyah
perlahan lahan daging itu dengan berdebar-debar. Rasanya renyah dimulut
dan kenyal ketika dikunyah.
Adrenalinnya tiba-tiba mengisyaratkan
sebuah bahaya sama persis ketika orang Jawa nekat dan mati karena makan
Tempe Bongkrek. Atau ketika Fugu goreng dengan sake manis itu masuk ke
mulutnya, Nyoman mencecap rasa gurih yang mencekam seolah merasakan buah
terlarang di Taman Eden. Akira membawa Nyoman ke tingkat ekstasi yang
mendebarkan.
“Wooow .. it is killing me ... it's so goood Akira San”, kata Nyoman seolah berlagak sebagai si Pemberani.
Dan
ketika Akira menantang Nyoman untuk menikmati sajian terakhir, Fugu
rebus campur sawi dan jamur, Nyoman merasakan kenyalnya daging itu
membuat urat lehernya meregang kesakitan. Sejenak Nyoman memegang kepala
bagian belakangnya, mengira racun tetrodotoxin sedang merenggut
nyawanya, tapi kemudian Akira mengatakan racun Fugu hanya melumpuhkan
otot-otot pernafasan.
Nyoman merasa lega. Diteguknya sake entah
sudah berapa sloki, tubuhnya setengah melayang. Nyoman meracau sambil
menirukan adegan lucu kartun Burt Simpsons, “Poison poison tasty fish.”
Bagi
Nyoman itu adalah pengalaman sensasional yang tak terlupakan.Sebuah
puncak rasa sekaligus mendebarkan. Orang rela menantang bahaya bahkan
rela menukar nyawanya.
Kedua sejoli itu mabuk berat, keluar kedai
dan berjalan gontai karena pengaruh berbotol-botol sake Otokoyama, juga
kelelahan perjalanan New York - Tokyo yang hampir 12 jam, dan taklama
mereka menemukan Love love Hotel, hotel murahan untuk percintaan sesaat.
Mereka tergeletak dalam kamar sempit dan tertidur pulas sambil
berpelukan.
*****
Akira tak pernah lepas dari syal yang selalu
melingkari lehernya. Biar musim berganti empat kali, ia akan memadukan
syal yang dipakainya dengan jaket musim dinginnya. Atau tank top musim
panas yang memperlihatkan busung dadanya, dipadu celana pendek sepangkal
paha, maka kesempurnaan akan terlihat ketika orang-orang mengetahui
cara berjalannya yang mirip setengah bebek, dan setengahnya macan lapar.
Semuanya terasa indah karena dia seorang Harajuku, itulah ciri Akira,
bahkan ketika dia memakai kawat gigi sedangkan giginya sudah rapi bagi
ukuran orang Jepang, dan ia selalu mengganti warna karetnya setiap dua
bulan sekali, orang menyadari bahwa itu sebagian dari gaya Akira. Ketika
Nyoman menyadari ada sisa daging Wagyu yang lembut telah berpindah ke
mulutnya, ia mengutuk dalam hati -- ini gara-gara trend kawat gigi
Akiralah sehingga ia mendapati sisa-sisa daging dalam mulutnya.
Pesawat
mereka telah mendarat di Bandara Ngurah Rai. Nyoman tak sabar ingin
cepat sampai kampung halamannya, tak sabar ingin bertemu ibunya,
mengenalkan Akira pada keluarganya. Atau tak sabar ingin bermain ke pura
di tengah pantai di desanya saat air sedang surut, ketika ia bermain
bersama teman-teman masa kecilnya, ketika melihat ibu mereka berjalan
beriringan dengan kain kebaya warna warni membawa sesajian di atas
kepala dan bersembahyang di pura untuk memohon agar dagangannya laris.
Juga ketika turis-turis meminta berkah dari air suci, atau kemudian
mereka berlari - lari menuju tebing-tebing pantai dan di bawah pohon
kamboja mereka menikmati pemandangan saat matahari tenggelam. Sangat
indah dan mentakjubkan.
Atau ketika warga kampungnya membuat
boneka raksasa dengan muka seram, berambut gimbal, gigi bertaring tapi
mempunyai payudara yang montok, seolah boneka raksasa itu mewakili roh
jahat yang menggoda sekaligus mematikan, untuk kemudian pada malam
harinya warga kampung mengarak Ogoh-ogoh itu keliling desa dan kemudian
membakarnya. Akira sangat menikmati ritual itu sambil berpegangan erat
di lengan Nyoman.
Hari-hari terasa indah bagi mereka, ingin
rasanya waktu berhenti, atau berjalan secara slow motion, secara
perlahan, sehingga mereka berdua dapat memaknai keindahan itu. Nyoman
mengajak Akira ke sebuah pura kecil di tetangga desanya. Ada mata air
tak pernah kering selama beratus-ratus tahun yang dipagar jeruji besi,
juga batu-batu lonjong yang dibebat kain putih sehingga mirip bayi yang
digeletakkan berjajar.
“Balik badanmu Akira San. Pegang koin ini
dan pejamkan matamu. Mintalah sesuatu yang kamu inginkan kepada Dewa.
Setelah itu jentikkan koin ditanganmu ke kolam di belakangmu. Dewa akan
mengabulkan permintaanmu andai koin itu masuk ke kolam.”
Akira
melakukan apa yang diperintah Nyoman, memejamkan mata dan melemparkan
koin itu dan berhasil masuk ke dalam kolam. Nyoman kemudian melakukan
hal yang sama dan berhasil. Keduanya bergembira layaknya kakak adik yang
baru menemukan permainan mengasyikkan. Akira bagi Nyoman adalah
“partner in crime”, kakak yang selalu melindunginya, kakak yang selalu
menyelamatkan dirinya dari amarah bapak ibunya. Ia tak pernah
mengeluarkan ancaman seperti ibunya yang tak tahan melihat
kebandelannya. Juga tak pernah mengecewakan dirinya dengan bilang tidak
kepadanya.
“Akira san, aku memohon pada Dewa ingin menikahimu.”
Akira tersipu sambil tak percaya, "Really?? Permintaan kita sama Nyoman. Semoga Dewa mengabulkannya.”
*****
Malam
sedang purnama, air pasang, ombak ganas menggulung, gemuruhnya memecah
batu karang, badai menghempas memporak porandakan rumah-rumah kayu.
Dalam kerlip cahaya lampion, wanita berkimono putih itu mengiris ikan
tipis - tipis, lantas dengan hati-hati mencelup sedikit kecap asin lalu
cuka dan memberikan pada dirinya. Sudah berkali-kali Nyoman mengimpikan
Akira dalam tidurnya. Mimpi buruk itu selalu muncul menggantikan
perbincangan yang telah lama tak dilakukan mereka berdua.
Ketika Nyoman menelpon, Akira lebih sering mengatakan,“ Aku sedang sibuk, Nyoman.”
Nyoman
lantas teringat perpisahan terakhir mereka di Bandara Sukarno Hatta
ketika Akira akan pulang ke Tokyo dan Nyoman balik ke New York. Nyoman
tak mengira Akira yang biasanya tenang dan tegar tiba-tiba tak kuasa
meneteskan airmatanya dan memeluk Nyoman erat sekali seolah tak ingin
berpisah. Kesedihan itu tergambar seolah mereka takkan pernah bertemu
lagi. “Como si fuera esta noche la ultima vez”, sepertinya malam itu
adalah pertemuan terakhir mereka. Sepertinya rintihan itu mirip Andre
Bocelli saat menyentuh nada tinggi diakhir birama Besame Mucho,
benar-benar menahan kesedihan yang amat dalam untuk tak bertemu lagi.
Waktu merubah segalanya.
Andai
benar sangkaan Nyoman bahwa cahaya akan luruh oleh kekuatan gravitasi,
maka cahaya cinta Akira mulai meluruh secepat cahaya melintasi Tokyo -
New York yang datangnya bertubi-tubi 27 kali sedetik. Nyoman merasakan
seolah ia ditampar api cinta yang membuat dirinya petinju KO akibat
pukulan bertubi-tubi. Cinta itu membakar jiwa raganya bahkan ketika
musim dingin tiba, cinta itu mampu melelehkan gundukan – gundukan salju
di perbukitan.
Lama kelamaan Nyoman merasakan cahaya cinta itu
mulai melemah ketika melintasi Mongolia, Kazakhtan, Austria, Prancis,
dan luruh ketika menyeberangi Samudera Atlantik tertarik oleh kekuatan
maha dahsyat ke dalam palung-palung yang dalam dan beku.
Ketika
telpon berdering dan Akira memberitahu Nyoman bahwa dirinya telah
menjalin hubungan cinta dengan lelaki lain. Nyoman tiba-tiba patah hati.
Hatinya bergemuruh seperti gunung Merapi ingin meletupkan lahar,
membuat dadanya ingin meledak. Beribu kupu-kupu terbang memenuhi
perutnya.
“Why ... Akira San?”
“Aku tak kuat menanggung derita cinta berpisah jauh darimu Nyoman.”
“You always sing to me Akira San, I will be right here waiting for you. Do you remember?”
“Forgive me Nyoman.... I am sorry ...”
Terdengar
nada telpon putus. Nyoman termangu. Hatinya kembali melayang ke masa
lampau ingat tatkala ia menggaris nama mereka berdua di pasir pantai,
berlari-lari mendekat ke air mata suci dan meminta berkah dari para
pendeta, membasuh wajah dengan keduabelah tangannya, berjingkat-jingkat
menuju gua tempat ular laut penunggu pura, dan tiba-tiba Akira pergi
begitu saja meninggalkannya.
Nyoman sangat marah. Akira telah
meninggalkan ia dalam kesendirian di pura itu. Ia ingin segera
memburunya pulang ke rumah. Dan tatkala Nyoman menemui Akira sedang
asyik bermain dengan boneka kesayangannya. Ia ingin segera menghambur
menumpahkan kemarahannya, memukuli sekenanya, sampai puas, sampai lelah,
dan ia lantas mendekap Akira, menyandarkan kepalanya pada dadanya,
sambil menangis sesenggukan.
Nyoman merasakan kesepian yang
mendalam. Baru kali ini ia merasa nyali merantaunya hilang setelah 12
tahun bekerja di Amerika. Masa depannya seolah kelam, bahkan ia sampai
ketakutan memikirkan hari esok. Nyoman ingin waktu berhenti diam saja,
tak bergerak. Tak ada esok atau lusa.
Entah sudah berapa lama
Nyoman dalam kemurungan, tapi kemudian ia teringat ibunya, juga tanah
Bali dimana ia lahir. Mereka mengajarkan sebuah kearifan dalam
norma-norma keluarga. Kakak punya derajat yang dituakan, dihormati, ia
adalah Nyoman anak ketiga, masih ada Made dan Wayan di atasnya. Ada hak
istimewa sebagai kakak, hak yang tak bisa disanggah. Apapun tindakan
yang diperbuat seorang kakak, Nyoman akhirnya menerima keadaan itu apa
adanya, “taken for granted”, menerima Akira San dalam hirarki keluarga.
Akira san adalah Harajuku. Tak ada istilah kuno atau ketinggalan jaman
dalam hidupnya. Apapun itu sebuah kenangan indah, yang ada sekarang
hanyalah semangat masa kininya.
Nyoman berusaha tegar, lagu
sederhana dengan melodi ajaib dan indah Sukiyaki, Kyu Sakamoto dengan
liriknya yang lugu menuntun kesedihannya untuk menepi.
Aku harus tengadah ketika berjalan (sambil bersiul)
Biar airmataku tak jatuh
Karena mengenang hari hari indah musim semi itu
Dan malam ini aku kesepian
Menghitung kaburnya bintang – bintang di langit (sambil bersiul)
Lewat air mataku yang menggenang
Karena mengenang hari-hari indah musim panas
Dan malam ini aku kesepian
Kebahagiaan bersandar di atas awan, Kebahagiaan ada di atas langit
Aku berjalan sambil menangis
Kesedihan terpancar pada bintang-bintang, Kepedihan terpancar pada cahaya bulan